Monday, April 9, 2012

Move On

Belakangan, banyak sekali orang beramai-ramai mengkampanyekan move on lewat tulisan. Ada banyak buku beredar bertemakan move on dan sangat laris manis di pasaran. Juga banyak sosialita yang mengkampanyekan move on lewat postingannya di twitter, simpel tapi aplikatif untuk pembaca. Move on memang sedang naik daun, tapi kenapa bisa ya? Apakah karena terlalu banyak orang yang hari ini putus cinta?

Putus cinta memang seringkali di dramatisir sehingga terdengar begitu menyedihkan dan seperti sirine berakhirnya keceriaan dalam hidup kita. Memang, separated is never be easy for everyone who still keep their love. Seperti kata Usher dalam lagunya, "It's sad but now we gotta say goodbye......can't say we didn't try to make it work for you and I, I know it hurts so much but it's best for us.." Terkadang, perpisahan dipilih setelah mencoba berbagai cara untuk bertahan dan tetap tidak berhasil. Perpisahan memang selalu menjadi cara terakhir, hampir selalu disepakati oleh kedua pihak, tapi juga selalu meninggalkan luka yang amat dalam.

Memang nggak mudah kok menjalani itu. Apalagi ketika kebersamaan sudah dibangun terlalu lama, sampai-sampai every single thing has their own story obut him or her. Dari buka mata sampai menutup mata, semuanya masih tentang dia. Pin ATM, password email, semuanya tanggal lahir dia atau tanggal jadian. Foto di dompet, di figura, semuanya foto sama dia. Isi media card handphone foto2 sama dia, kontak bbm masih menyimpan history chat bersama dia. Laptop wallpapernya masih sama dia, baju, tas, sepatu dibeli sama-sama dia. Semuanya, every single thing. Bahkan kita hampir seperti tidak punya ruang dimana tidak ada dia. Lalu pertanyaannya, kalau mau move on harus dimulai dari mana?

Jawabannya, dari niat diri sendiri. Make it simple, bahwa melupakan seseorang yang sudah begitu melekatnya dengan hidup kita, hampir serupa dengan mengganti aktifitas. Tak ada bedanya saat kita harus meninggalkan SD dengan segala kenangannya dan lanjut ke SMP, lalu meninggalkan lagi dan melanjut ke SMA, kuliah dan mulai kerja. Atau dari satu tempat kerja dengan segala rutinitas, rekanan dan segala hal nya ke tempat kerja yang baru. Buat tagline, bahwa semuanya pasti berlalu dan buat pertanyaan retorik, mana mungkin bisa tidak berlalu?

Meski menyakitkan, melepaskan sebuah kenangan itu adalah bagian dari pembelajaran dalam hidup. Belajar ikhlas itu memang bukan main dahsyatnya (baca:sakitnya). Tapi, Allah  pasti memberikan ujian untuk manusia untuk membuat kita berpikir lebih, berusaha lebih lebih dan bertindak lebih lebih lebih lagi, untuk menjadi sesosok manusia yang lebih lebih lebih lebih baik.

Move on bukan tentang mengganti seseorang dengan kehadiran seseorang yang baru. Tapi tentang bagaimana mengikhlaskan seseorang dan segala yang pernah kita miliki bersamanya, lalu tetap tersenyum, membuka jendela, membuka mata untuk setiap harapan-harapan baru di kehidupan yang baru, yang lebih baik.

Move on memang sangat tidak mudah, tapi juga  tidak juara tersulit. :)

Friday, June 10, 2011

Monolog

Ini sudah lembaran to do list kesekian yang aku ingkari sendiri... Membacanya membuatku tiba-tiba saja ingin bicara dengan diri sendiri.. Biasanya, kita akan lebih pintar menasihati orang lain bukan? Maka kini aku ingin menganggapku orang lain, lalu berbicara padanya.

Ana, apa kamu tahu betapa banyak waktu yang kau buang percuma? Dari hari ke hari, jam demi jam, menit ke menit, detik demi detik... Rangkailah kembali ingatanmu lalu lihatlah apa yang sudah kau perbuat terhadap 2 hal besar dalam hidupmu: harapan orang tuamu dan mimpimu sendiri.

Aku tahu mungkin ini adalah salah satu waktu paling berat dalam hidupmu. Ketika kamu berada diujung masa kuliahmu, menghadapi begitu banyak tuntutan, deadline, apalagi dengan pilihan yang kamu pilih ini. Tapi apakah karena semua kesulitan itu lantas kamu berhak lari dan bersembunyi? apakah kemudian kamu boleh mengeluh kemudian merasa lelah dan bosan dengan rutinitas dan tuntutan itu? Apakah kamu bisa membiarkan penat di kepalamu itu membuat suasana menjadi begitu keruh? Tidak kan? Maka dari itu, mulailah bangkit dari jatuhmu. Mulai lah bergerak dari kemalasanmu.

Hey, putri kedua dari orang tua sempurna, kamu sebetulnya patut berbangga dengan harapan yang ditanam beliau-beliau itu sejak dulu terhadapmu. ketika mungkin ayah ibumu merencanakan hal yang besar akan hidupmu, maka sebetulnya mereka menganggapmu mampu memenuhi harapan itu. Sulit? betul sekali, sulit, tapi apakah dukungan, doa, dan prinsip yang mereka tanam selama ini tidak cukup membuatmu mengerti bahwa hari ini kamu adalah harapan mereka, apakah besok kamu ingin mematahkan harapan itu? tidak kan? maka dari itu, bukalah matamu, bayangkan wajah mereka, mulailah susun kembali mimpi-mimpi itu buat mereka.

Ana Wardatul Jannah, perempuan pemalas, pengulang-ulang kesalahan, wanita penuh teloransi terhadap diri sendiri, mau sampai kapan kamu begini? Bermimpi begitu tinggi sambil terus menunda kewajiban, berkhayal akan kebahagiaan sambil melupakan keharusan... Berkacalah, seandainya berkaca bisa menunjukkan rentetan dosamu sejak dulu, mungkin akan banyak orang memakimu karena kebodohanmu. Berkacalah dahulu, sebentar saja, lihat apa yang sudah kamu perbuat pada mimpimu. Sudah cukup? Sudah cukup menangisnya? Sudah habis airmata penyesalannya?

Sudah?
Kalau sudah, sekarang akan aku beritahu satu hal. Mungkin kamu tidak pernah tahu, bahwa didalam dirimu tertanam kemauan dan semangat yang besar, namun kamu tidak cukup sering menggunakannya dengan baik. Kamu sejak kecil begitu cerdas, namun begitu dewasa kamu tidak sadar akan hal itu, lalu lebih sering membiarkan dirimu tampak bodoh begitu saja. Aku tau kamu begitu mencintai orang tuamu lebih dari siapapun, bahkan  matamu tiba-tiba akan basah saat sedikit saja seseorang bicara tentang betapa mereka luar biasa. Kamu malu, kamu malu terhadap mereka, terhadap rasa bangga mereka yang tidak pernah berkurang terhadapmu. iya kan? aku tahu kamu bisa jadi luar biasa ketika kamu mau bergerak dan mengeluarkan semua apa yang kamu miliki. namun kini kamu tampak begitu terpuruk. Kembali berkacalah.

Apa yang kau lihat?
Aku melihat semangat.
Aku akan bangun, bangkit dan merajut 2 hal besar dalam hidupku: harapan orangtuaku dan tentunya, mimpiku sendiri.

Tuesday, May 31, 2011

My life crisis

Lama ngga ngisi blog... Tapi sebenernya belakangan ini berkali-kali buka blog, menatap layar kosong 'new entry', tapi nihil. Gue mulai kehilangan cara untuk menulis lagi. Siaaaal.

But ya I'm trying eniwey.

Actually, belakangan ini gue sedang merasa tidak terlalu baik. Gue mencoba mencari alasan mengapa demikian, tapi yang gue temukan hanyalah rentetan rutinitas yang tiada ujungnya. Gue pikir, mungkin ini dia penyebabnya. For God sake, rutinitas ini hampi membunuh gue. Oh tidak, rasanya seperti menyayat-nyayat punggung gue, lalu menghisap darah gue perlahan-lahan seperti yang dilakukan Wirth dalam film Creek, lalu membiarkan gue hampir mati kehabisan darah. Dengan perumpamaan sangat lebay itu, i can say that I'm dying now.

Gue enggak tau pasti ya, apakah ini wajar atau enggak untuk gue rasakan. Secara, ini memang kehidupan gue sekarang, kuliah dan praktek yang begitu menyiksa, dan mungkin sampai nanti, setelah gue lulus kuliah, karena ini memang pilihan hidup gue. Setidaknya gue baru akan mendapat jeda setelah 1-2 bulan kedepan. Iya, gue hanya mengharapkan jeda. Jeda yang tidak terlalu banyak, tapi berkualitas. Tapi apakah iya hidup harus selalu ada jeda? Seseorang pernah bilang sama gue, bahwa hidup harus terus berjalan tanpa jeda, karena break atau jeda dalam hidup adalah mati, nanti setelah mati ya lanjut lagi dengan kehidupan berikutnya. Benar, gue mengakui, that's why, all i have to do is ensure my self about this choice for my liife. This is what i call as 'quarter life crisis'.

Gue dalam hitungan bulan, akan segera menghadapi kehidupan keras diluar panci bertekanan yang gue huni hampir tiga tahun ini. Panci bertekanan ini akan segera terbuka dan membuang gue ke dunia luar yang sebenarnya. Yang mungkin saja, tekanannya akan lebih besar dan pastinya unpredictable. Tidak ada yang tahu gue akan jadi apa disana.

Hidup yang sesungguhnya tampaknya tidak mudah ya, dunia sekolah yang membuat gue seperti berada dalam balon udara menerbangkan gue ke awang-awang, dunia kuliah yang bagaikan menggodok gue dalam panci bertekanan terduga, rasanya bukan apa-apa bila dibandingkan dunia yang tidak ada batasnya itu. Menerbangkan gue tanpa balon, menjatuhkan aku tanpa alas, menggodok gue tanpa dinding, ya tanpa batas. Gue sih masih bergidik membayangkannya. Tapi in my deepest heart, in my point of my mind, gue yakin gue bisa hidup didalamnya. Semuanya sudah dipersiapkan sejak lama, saat ini adalah finishing touch. Anggaplah begitu. Gue hanya bisa berkata pada diri gue, bukan jeda yang gue butuhkan, tapi keyakinan yang lebih dan lebih lagi bahwa jalan gue itu cerah. Gue butuh kecerdasan lagi dan lagi, kejelian lebih banyak lagi untuk melihat siapa diri gue sebenarnya dan langkah mana yang akan gue ambil pertama kali setelah gue di launching ke dunia sesungguhnya itu.

Gue tidak pernah membayangkan, wisuda yang gue tunggu-tunggu, adalah bahagia yang menyertai awal yang tidak pernah gue tau bagaimana akhirnya. Tapi yakinlah, rencanakan yang terbaik, berusaha sekuatnya, bekerja sebaik-baiknya, dan berdoa setulus-tulusnya. DIA melihat usaha kita, DIA mendengar doa-doa dan mimpi kita. SEMANGAT MAHASISWA TINGKAT AKHIR!!

Thursday, January 13, 2011

09 Januari 2011

Semalem, waktu gue melintasi jalanan ramai berlampu warna-warni itu, gue merasa begitu tergetar. Tempat itu nggak asing, kafe-kafe cozzy nan cantik itu juga bukan hal baru buat gue. Traffic ligt, billboard, angkutan umum, semuanya gue kenal dengan baik.

Gue pernah melalui jalan itu, ralat, gue sering melewati jalanan itu di dalam mobil bersama teman atau keluarga. Mengobrol santai dan ringan, biasanya sambil berdiskusi memilih tempat shopping berikutnya. Ya, sepanjang jalan itu hingga di ujung depannya, berjejeran kafe, resto dan tempat belanja yang ciamik. Kalau tittle nya belanja, pasti style gue dengan jeans, kaos oblong santai dan sandal teplek, menenteng beberapa plastik hasil hunting barang. Menyenangkan, ya jalanan itu meninggalkan kesan menyenangkan. Kalau boleh gue putar pita perekam kenangan gue disana dengan teman-teman, pasti isi rekamannya penuh tawa, ngakak, menggila. Ya begitu.

Gue juga pernah melalui jalanan itu sama si pacar gue. Cukup sering. Ya, gue dan dia meluncur santai diatas sepeda motor sembari ting tang tung memilih kafe mana yang akan kita singgahi. Ditemani angin malam, jalanan itu pernah jadi saksi rasa kangen gue sama dia yang lama ngga ketemu lalu janjian makan. Ada gelora disana kalo memang atmosfir bisa menyimpannya. Ada cerita cinta gue disana seandainya udara bisa mengamankannya. Akan ada gambaran gue dengan jeans, atasan casual dan sepatu widges, tertawa bersama dia, andai saja momen itu dipotret oleh alam.

Jalanan itu, pernah jadi saksi masa muda gue, kehidupan gue yang penuh ketawaan, gue dan usia gue yang masih beriringan dengan rapat menjalani hari-hari dengan jalan-jalan, makan, belanja, pacaran, karokea bareng temen-temen, hura-hura.

Tapi semalam, gue melewati jalan itu dalam kondisi yang lain. Gue memandangi lampu-lampu kafe yang begitu segar, pelataran resto yang ciamik, seperti de javu dalam situasi yang berbeda jauh. Gue berseragam putih, di dalam angkot carteran, berjuang membuat seorang ibu yang kehilangan banyak darah untuk tetap tersadar, untuk tetap hidup. Gue mungkin sesungguhnya bukan siapa-siapa dalam skenario semalam, tapi on cover gue adalah tumpuan disana. Seorang ibu yang melahirkan 5 jam lalu, mengalami ari-ari tertahan, kehilangan banyak darah, sedang berjuang melawan kematian di hadapan gue, dan seisi angkot itu menumpu harapannya pada gue. Iya, gue adalah 'ibu bidan' yang sebetulnya belum jadi, yang bertanggung jawab agar si ibu segera mendapat pertolongan di RS dengan fasilitas cukup baik. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain, yang gue dengar hanya penolakan. Keluarga tidak punya biaya, sementara diagnosa sementara memungkinkan ibu untuk operasi dengan DP tidak sedikit. Wajahnya yang semakin memutih pucat, tubuhnya gemetar dan teraba dingin, dan tatapan anggota keluarganya terhadap gue yang seolah-olah memohon pertolongan. Padahal, demi Tuhan, gue bukan siapa-siapa.

Gue sekilas memandangi jalanan itu sambil berlalu pergi. This is me now. Gue harus mulai terbiasa dengan peran ini. Mau nggak mau harus mulai belajar merasa comfort dengan tatapan penuh harapan dari pasien dan keluarga, dengan tanggung jawab besar yang bukan main-main, dengan pertaruhan nyawa. Iya, inilah tuntutan profesi, yang sudah harus mulai gue rajut dan gue padukan serapat mungkin dengan diri gue sehingga meningkat menjadi tuntutan nurani. 

Siapkah gue? Pertanyaa ini sudah harus segera terjawab 'iya'. (Jan092011)

Saturday, December 18, 2010

Ucapan terimakasih, baru laporan kompre :p

Tadi gue baru buka-buka contoh laporan komprehensif punya kaka tingkat gue. Buat yang ngga tau, komprehensif itu semacam laporan dari asuhan yang menyeluruh yang kita berikan kepada seorang ibu dari kehamilan 37 minggu, proses melahirkan, perawatan bayi sampai ibunya nifas 40 hari dan pemilihan KB,  syaratnya harus normal dan tidak boleh ada kelainan. Dan ini merupakan salah satu syarat kelulusan gue sebelum menyusun KTI. 

Jujur sejujur-jujurnya, gue malees banget ngebayangin musti nyusun kompre dalam 2 bulan ini. Nggak kebayang aja, dengan harus mengejar target-target persalinan yang begitu banyak, target pengambilan dan presentasi kasus ditambah target asuhan komprehensif ini, mungkin akan dengan solidnya membuat kepala gue pecah. Apalagi gue yang sekarang lagi praktik di RS, tentu kebanjiran pasien dengan sejuta kelainan, jarang banget yang normal-normal. Lalu dimana gue bisa dapet pasien hamil yang sehat-sehat ajjaaaa???



Hampir desperate, akhirnya gue membuka-buka contoh laporannyaa. Yaa, niatnya mau membangun chemistry dulu, biar tertarik dulu lah senggaknya, :p. Buka-buka lah gue laporan punya kakak tingkat gue itu, nggak ada yang menarik karena semuanya sesuai bayangan gue, malesin... Sampai akhirnya sebelum gue tutup folder kompre itu, tumben-tumbenan gue tertarik untuk membuka sebuah file bernama 'kata pengantar' Hoh, aneh kan??

Gue buka lah... Dan... disitu... tertulis...

.........  
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1.    ......... sebagai Ketua Perwakilan Jurusan Kebidanan Bogor Politeknik Kesehatan DepKes Bandung.
2.      ........ sebagai Pembimbing lapangan RSUD .......
3.    ........   sebagai  bidan pembimbing.
4.     .........  sebagai wali tingkat jalur umum tingkat III.......
5.     .........  sebagai pembimbing dari institusi pendidikan dalam penulisan kasus komprehensif ini.
6.      Ny. .... dan keluarga yang telah bekerjasama dan bersedia memberikan informasi untuk penyusunan kasus komprehensif.
7.      Kepada Orang Tuaku tercinta, .......... yang senantiasa mendoakan setiap langkah selama ini dan dengan sabar mendampingi, makasih udah sabar dengerin curhatan ...... tiap hari selama penyusunan tugas komprhensif ini.
8.      Kakakku tersayang ....... yang slalu ngasih semangat dan menjadi sumber semangat.
9.    Rekan Mahasiswa Jalum tingkat III ...... yang selalu memberikan dukungan dan sama-sama menyemangati. Kita berjuang bersama kawan.
      ......

     Waw, jujur gue baru tau kalo kompre pake ada begituannya segala. Tapi, baca itu, gue jadi diem sebentar, kayaknya gue mulai menyadari bahwa gue semakin dekat dengan ucapan-ucapan terimakasih macam itu. Macam yang sering gue liat di skripsi-skripsi orang. Hahaha... Konyol, tapi buat gue, it's such a mysterious message to wake me up, bahwa memang gue harus segera bangun dan bekerja keras hingga akhirnya orang-orang yang gue sayangi, yang selalu berjuang buat gue selama ini, bisa membaca nama mereka terketik rapi bersanding dengan ucapan terimakasih dari gue yang sebetulnya tidak sependek itu. Surely, tidak sependek itu.

    Tiba-tiba, gue  jadi bersemangat... *tepatnya lebih bersemangat untuk menyusun ucapan-ucapan terimakasih semacam itu. :p... Ah, tapi it's not too bad, kata pengantar memang letaknya di bagian depan laporan kan? Yaaa, anggaplah ini awal yang baik untuk memulai. Selanjutnya, gue tinggal menyingsingkan lengan baju, naikin celana karena Leuwiliang becek (:p), lalu mulai cari-vari infooo, dimana gue bisa mendapatkan ibu hamil yang sehat, yang bersedia bekerja sama dengan gue, yang berbaik hati mau mempercayakan saat-saat crusial dalam hidupnya kepada gue. Mudah-mudahan semuanya lancar dan dimudahkan. Semangat!!! :)

Move On

Belakangan, banyak sekali orang beramai-ramai mengkampanyekan move on lewat tulisan. Ada banyak buku beredar bertemakan move on dan sangat laris manis di pasaran. Juga banyak sosialita yang mengkampanyekan move on lewat postingannya di twitter, simpel tapi aplikatif untuk pembaca. Move on memang sedang naik daun, tapi kenapa bisa ya? Apakah karena terlalu banyak orang yang hari ini putus cinta?

Putus cinta memang seringkali di dramatisir sehingga terdengar begitu menyedihkan dan seperti sirine berakhirnya keceriaan dalam hidup kita. Memang, separated is never be easy for everyone who still keep their love. Seperti kata Usher dalam lagunya, "It's sad but now we gotta say goodbye......can't say we didn't try to make it work for you and I, I know it hurts so much but it's best for us.." Terkadang, perpisahan dipilih setelah mencoba berbagai cara untuk bertahan dan tetap tidak berhasil. Perpisahan memang selalu menjadi cara terakhir, hampir selalu disepakati oleh kedua pihak, tapi juga selalu meninggalkan luka yang amat dalam.

Memang nggak mudah kok menjalani itu. Apalagi ketika kebersamaan sudah dibangun terlalu lama, sampai-sampai every single thing has their own story obut him or her. Dari buka mata sampai menutup mata, semuanya masih tentang dia. Pin ATM, password email, semuanya tanggal lahir dia atau tanggal jadian. Foto di dompet, di figura, semuanya foto sama dia. Isi media card handphone foto2 sama dia, kontak bbm masih menyimpan history chat bersama dia. Laptop wallpapernya masih sama dia, baju, tas, sepatu dibeli sama-sama dia. Semuanya, every single thing. Bahkan kita hampir seperti tidak punya ruang dimana tidak ada dia. Lalu pertanyaannya, kalau mau move on harus dimulai dari mana?

Jawabannya, dari niat diri sendiri. Make it simple, bahwa melupakan seseorang yang sudah begitu melekatnya dengan hidup kita, hampir serupa dengan mengganti aktifitas. Tak ada bedanya saat kita harus meninggalkan SD dengan segala kenangannya dan lanjut ke SMP, lalu meninggalkan lagi dan melanjut ke SMA, kuliah dan mulai kerja. Atau dari satu tempat kerja dengan segala rutinitas, rekanan dan segala hal nya ke tempat kerja yang baru. Buat tagline, bahwa semuanya pasti berlalu dan buat pertanyaan retorik, mana mungkin bisa tidak berlalu?

Meski menyakitkan, melepaskan sebuah kenangan itu adalah bagian dari pembelajaran dalam hidup. Belajar ikhlas itu memang bukan main dahsyatnya (baca:sakitnya). Tapi, Allah  pasti memberikan ujian untuk manusia untuk membuat kita berpikir lebih, berusaha lebih lebih dan bertindak lebih lebih lebih lagi, untuk menjadi sesosok manusia yang lebih lebih lebih lebih baik.

Move on bukan tentang mengganti seseorang dengan kehadiran seseorang yang baru. Tapi tentang bagaimana mengikhlaskan seseorang dan segala yang pernah kita miliki bersamanya, lalu tetap tersenyum, membuka jendela, membuka mata untuk setiap harapan-harapan baru di kehidupan yang baru, yang lebih baik.

Move on memang sangat tidak mudah, tapi juga  tidak juara tersulit. :)

Monolog

Ini sudah lembaran to do list kesekian yang aku ingkari sendiri... Membacanya membuatku tiba-tiba saja ingin bicara dengan diri sendiri.. Biasanya, kita akan lebih pintar menasihati orang lain bukan? Maka kini aku ingin menganggapku orang lain, lalu berbicara padanya.

Ana, apa kamu tahu betapa banyak waktu yang kau buang percuma? Dari hari ke hari, jam demi jam, menit ke menit, detik demi detik... Rangkailah kembali ingatanmu lalu lihatlah apa yang sudah kau perbuat terhadap 2 hal besar dalam hidupmu: harapan orang tuamu dan mimpimu sendiri.

Aku tahu mungkin ini adalah salah satu waktu paling berat dalam hidupmu. Ketika kamu berada diujung masa kuliahmu, menghadapi begitu banyak tuntutan, deadline, apalagi dengan pilihan yang kamu pilih ini. Tapi apakah karena semua kesulitan itu lantas kamu berhak lari dan bersembunyi? apakah kemudian kamu boleh mengeluh kemudian merasa lelah dan bosan dengan rutinitas dan tuntutan itu? Apakah kamu bisa membiarkan penat di kepalamu itu membuat suasana menjadi begitu keruh? Tidak kan? Maka dari itu, mulailah bangkit dari jatuhmu. Mulai lah bergerak dari kemalasanmu.

Hey, putri kedua dari orang tua sempurna, kamu sebetulnya patut berbangga dengan harapan yang ditanam beliau-beliau itu sejak dulu terhadapmu. ketika mungkin ayah ibumu merencanakan hal yang besar akan hidupmu, maka sebetulnya mereka menganggapmu mampu memenuhi harapan itu. Sulit? betul sekali, sulit, tapi apakah dukungan, doa, dan prinsip yang mereka tanam selama ini tidak cukup membuatmu mengerti bahwa hari ini kamu adalah harapan mereka, apakah besok kamu ingin mematahkan harapan itu? tidak kan? maka dari itu, bukalah matamu, bayangkan wajah mereka, mulailah susun kembali mimpi-mimpi itu buat mereka.

Ana Wardatul Jannah, perempuan pemalas, pengulang-ulang kesalahan, wanita penuh teloransi terhadap diri sendiri, mau sampai kapan kamu begini? Bermimpi begitu tinggi sambil terus menunda kewajiban, berkhayal akan kebahagiaan sambil melupakan keharusan... Berkacalah, seandainya berkaca bisa menunjukkan rentetan dosamu sejak dulu, mungkin akan banyak orang memakimu karena kebodohanmu. Berkacalah dahulu, sebentar saja, lihat apa yang sudah kamu perbuat pada mimpimu. Sudah cukup? Sudah cukup menangisnya? Sudah habis airmata penyesalannya?

Sudah?
Kalau sudah, sekarang akan aku beritahu satu hal. Mungkin kamu tidak pernah tahu, bahwa didalam dirimu tertanam kemauan dan semangat yang besar, namun kamu tidak cukup sering menggunakannya dengan baik. Kamu sejak kecil begitu cerdas, namun begitu dewasa kamu tidak sadar akan hal itu, lalu lebih sering membiarkan dirimu tampak bodoh begitu saja. Aku tau kamu begitu mencintai orang tuamu lebih dari siapapun, bahkan  matamu tiba-tiba akan basah saat sedikit saja seseorang bicara tentang betapa mereka luar biasa. Kamu malu, kamu malu terhadap mereka, terhadap rasa bangga mereka yang tidak pernah berkurang terhadapmu. iya kan? aku tahu kamu bisa jadi luar biasa ketika kamu mau bergerak dan mengeluarkan semua apa yang kamu miliki. namun kini kamu tampak begitu terpuruk. Kembali berkacalah.

Apa yang kau lihat?
Aku melihat semangat.
Aku akan bangun, bangkit dan merajut 2 hal besar dalam hidupku: harapan orangtuaku dan tentunya, mimpiku sendiri.

My life crisis

Lama ngga ngisi blog... Tapi sebenernya belakangan ini berkali-kali buka blog, menatap layar kosong 'new entry', tapi nihil. Gue mulai kehilangan cara untuk menulis lagi. Siaaaal.

But ya I'm trying eniwey.

Actually, belakangan ini gue sedang merasa tidak terlalu baik. Gue mencoba mencari alasan mengapa demikian, tapi yang gue temukan hanyalah rentetan rutinitas yang tiada ujungnya. Gue pikir, mungkin ini dia penyebabnya. For God sake, rutinitas ini hampi membunuh gue. Oh tidak, rasanya seperti menyayat-nyayat punggung gue, lalu menghisap darah gue perlahan-lahan seperti yang dilakukan Wirth dalam film Creek, lalu membiarkan gue hampir mati kehabisan darah. Dengan perumpamaan sangat lebay itu, i can say that I'm dying now.

Gue enggak tau pasti ya, apakah ini wajar atau enggak untuk gue rasakan. Secara, ini memang kehidupan gue sekarang, kuliah dan praktek yang begitu menyiksa, dan mungkin sampai nanti, setelah gue lulus kuliah, karena ini memang pilihan hidup gue. Setidaknya gue baru akan mendapat jeda setelah 1-2 bulan kedepan. Iya, gue hanya mengharapkan jeda. Jeda yang tidak terlalu banyak, tapi berkualitas. Tapi apakah iya hidup harus selalu ada jeda? Seseorang pernah bilang sama gue, bahwa hidup harus terus berjalan tanpa jeda, karena break atau jeda dalam hidup adalah mati, nanti setelah mati ya lanjut lagi dengan kehidupan berikutnya. Benar, gue mengakui, that's why, all i have to do is ensure my self about this choice for my liife. This is what i call as 'quarter life crisis'.

Gue dalam hitungan bulan, akan segera menghadapi kehidupan keras diluar panci bertekanan yang gue huni hampir tiga tahun ini. Panci bertekanan ini akan segera terbuka dan membuang gue ke dunia luar yang sebenarnya. Yang mungkin saja, tekanannya akan lebih besar dan pastinya unpredictable. Tidak ada yang tahu gue akan jadi apa disana.

Hidup yang sesungguhnya tampaknya tidak mudah ya, dunia sekolah yang membuat gue seperti berada dalam balon udara menerbangkan gue ke awang-awang, dunia kuliah yang bagaikan menggodok gue dalam panci bertekanan terduga, rasanya bukan apa-apa bila dibandingkan dunia yang tidak ada batasnya itu. Menerbangkan gue tanpa balon, menjatuhkan aku tanpa alas, menggodok gue tanpa dinding, ya tanpa batas. Gue sih masih bergidik membayangkannya. Tapi in my deepest heart, in my point of my mind, gue yakin gue bisa hidup didalamnya. Semuanya sudah dipersiapkan sejak lama, saat ini adalah finishing touch. Anggaplah begitu. Gue hanya bisa berkata pada diri gue, bukan jeda yang gue butuhkan, tapi keyakinan yang lebih dan lebih lagi bahwa jalan gue itu cerah. Gue butuh kecerdasan lagi dan lagi, kejelian lebih banyak lagi untuk melihat siapa diri gue sebenarnya dan langkah mana yang akan gue ambil pertama kali setelah gue di launching ke dunia sesungguhnya itu.

Gue tidak pernah membayangkan, wisuda yang gue tunggu-tunggu, adalah bahagia yang menyertai awal yang tidak pernah gue tau bagaimana akhirnya. Tapi yakinlah, rencanakan yang terbaik, berusaha sekuatnya, bekerja sebaik-baiknya, dan berdoa setulus-tulusnya. DIA melihat usaha kita, DIA mendengar doa-doa dan mimpi kita. SEMANGAT MAHASISWA TINGKAT AKHIR!!

09 Januari 2011

Semalem, waktu gue melintasi jalanan ramai berlampu warna-warni itu, gue merasa begitu tergetar. Tempat itu nggak asing, kafe-kafe cozzy nan cantik itu juga bukan hal baru buat gue. Traffic ligt, billboard, angkutan umum, semuanya gue kenal dengan baik.

Gue pernah melalui jalan itu, ralat, gue sering melewati jalanan itu di dalam mobil bersama teman atau keluarga. Mengobrol santai dan ringan, biasanya sambil berdiskusi memilih tempat shopping berikutnya. Ya, sepanjang jalan itu hingga di ujung depannya, berjejeran kafe, resto dan tempat belanja yang ciamik. Kalau tittle nya belanja, pasti style gue dengan jeans, kaos oblong santai dan sandal teplek, menenteng beberapa plastik hasil hunting barang. Menyenangkan, ya jalanan itu meninggalkan kesan menyenangkan. Kalau boleh gue putar pita perekam kenangan gue disana dengan teman-teman, pasti isi rekamannya penuh tawa, ngakak, menggila. Ya begitu.

Gue juga pernah melalui jalanan itu sama si pacar gue. Cukup sering. Ya, gue dan dia meluncur santai diatas sepeda motor sembari ting tang tung memilih kafe mana yang akan kita singgahi. Ditemani angin malam, jalanan itu pernah jadi saksi rasa kangen gue sama dia yang lama ngga ketemu lalu janjian makan. Ada gelora disana kalo memang atmosfir bisa menyimpannya. Ada cerita cinta gue disana seandainya udara bisa mengamankannya. Akan ada gambaran gue dengan jeans, atasan casual dan sepatu widges, tertawa bersama dia, andai saja momen itu dipotret oleh alam.

Jalanan itu, pernah jadi saksi masa muda gue, kehidupan gue yang penuh ketawaan, gue dan usia gue yang masih beriringan dengan rapat menjalani hari-hari dengan jalan-jalan, makan, belanja, pacaran, karokea bareng temen-temen, hura-hura.

Tapi semalam, gue melewati jalan itu dalam kondisi yang lain. Gue memandangi lampu-lampu kafe yang begitu segar, pelataran resto yang ciamik, seperti de javu dalam situasi yang berbeda jauh. Gue berseragam putih, di dalam angkot carteran, berjuang membuat seorang ibu yang kehilangan banyak darah untuk tetap tersadar, untuk tetap hidup. Gue mungkin sesungguhnya bukan siapa-siapa dalam skenario semalam, tapi on cover gue adalah tumpuan disana. Seorang ibu yang melahirkan 5 jam lalu, mengalami ari-ari tertahan, kehilangan banyak darah, sedang berjuang melawan kematian di hadapan gue, dan seisi angkot itu menumpu harapannya pada gue. Iya, gue adalah 'ibu bidan' yang sebetulnya belum jadi, yang bertanggung jawab agar si ibu segera mendapat pertolongan di RS dengan fasilitas cukup baik. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain, yang gue dengar hanya penolakan. Keluarga tidak punya biaya, sementara diagnosa sementara memungkinkan ibu untuk operasi dengan DP tidak sedikit. Wajahnya yang semakin memutih pucat, tubuhnya gemetar dan teraba dingin, dan tatapan anggota keluarganya terhadap gue yang seolah-olah memohon pertolongan. Padahal, demi Tuhan, gue bukan siapa-siapa.

Gue sekilas memandangi jalanan itu sambil berlalu pergi. This is me now. Gue harus mulai terbiasa dengan peran ini. Mau nggak mau harus mulai belajar merasa comfort dengan tatapan penuh harapan dari pasien dan keluarga, dengan tanggung jawab besar yang bukan main-main, dengan pertaruhan nyawa. Iya, inilah tuntutan profesi, yang sudah harus mulai gue rajut dan gue padukan serapat mungkin dengan diri gue sehingga meningkat menjadi tuntutan nurani. 

Siapkah gue? Pertanyaa ini sudah harus segera terjawab 'iya'. (Jan092011)

Ucapan terimakasih, baru laporan kompre :p

Tadi gue baru buka-buka contoh laporan komprehensif punya kaka tingkat gue. Buat yang ngga tau, komprehensif itu semacam laporan dari asuhan yang menyeluruh yang kita berikan kepada seorang ibu dari kehamilan 37 minggu, proses melahirkan, perawatan bayi sampai ibunya nifas 40 hari dan pemilihan KB,  syaratnya harus normal dan tidak boleh ada kelainan. Dan ini merupakan salah satu syarat kelulusan gue sebelum menyusun KTI. 

Jujur sejujur-jujurnya, gue malees banget ngebayangin musti nyusun kompre dalam 2 bulan ini. Nggak kebayang aja, dengan harus mengejar target-target persalinan yang begitu banyak, target pengambilan dan presentasi kasus ditambah target asuhan komprehensif ini, mungkin akan dengan solidnya membuat kepala gue pecah. Apalagi gue yang sekarang lagi praktik di RS, tentu kebanjiran pasien dengan sejuta kelainan, jarang banget yang normal-normal. Lalu dimana gue bisa dapet pasien hamil yang sehat-sehat ajjaaaa???



Hampir desperate, akhirnya gue membuka-buka contoh laporannyaa. Yaa, niatnya mau membangun chemistry dulu, biar tertarik dulu lah senggaknya, :p. Buka-buka lah gue laporan punya kakak tingkat gue itu, nggak ada yang menarik karena semuanya sesuai bayangan gue, malesin... Sampai akhirnya sebelum gue tutup folder kompre itu, tumben-tumbenan gue tertarik untuk membuka sebuah file bernama 'kata pengantar' Hoh, aneh kan??

Gue buka lah... Dan... disitu... tertulis...

.........  
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1.    ......... sebagai Ketua Perwakilan Jurusan Kebidanan Bogor Politeknik Kesehatan DepKes Bandung.
2.      ........ sebagai Pembimbing lapangan RSUD .......
3.    ........   sebagai  bidan pembimbing.
4.     .........  sebagai wali tingkat jalur umum tingkat III.......
5.     .........  sebagai pembimbing dari institusi pendidikan dalam penulisan kasus komprehensif ini.
6.      Ny. .... dan keluarga yang telah bekerjasama dan bersedia memberikan informasi untuk penyusunan kasus komprehensif.
7.      Kepada Orang Tuaku tercinta, .......... yang senantiasa mendoakan setiap langkah selama ini dan dengan sabar mendampingi, makasih udah sabar dengerin curhatan ...... tiap hari selama penyusunan tugas komprhensif ini.
8.      Kakakku tersayang ....... yang slalu ngasih semangat dan menjadi sumber semangat.
9.    Rekan Mahasiswa Jalum tingkat III ...... yang selalu memberikan dukungan dan sama-sama menyemangati. Kita berjuang bersama kawan.
      ......

     Waw, jujur gue baru tau kalo kompre pake ada begituannya segala. Tapi, baca itu, gue jadi diem sebentar, kayaknya gue mulai menyadari bahwa gue semakin dekat dengan ucapan-ucapan terimakasih macam itu. Macam yang sering gue liat di skripsi-skripsi orang. Hahaha... Konyol, tapi buat gue, it's such a mysterious message to wake me up, bahwa memang gue harus segera bangun dan bekerja keras hingga akhirnya orang-orang yang gue sayangi, yang selalu berjuang buat gue selama ini, bisa membaca nama mereka terketik rapi bersanding dengan ucapan terimakasih dari gue yang sebetulnya tidak sependek itu. Surely, tidak sependek itu.

    Tiba-tiba, gue  jadi bersemangat... *tepatnya lebih bersemangat untuk menyusun ucapan-ucapan terimakasih semacam itu. :p... Ah, tapi it's not too bad, kata pengantar memang letaknya di bagian depan laporan kan? Yaaa, anggaplah ini awal yang baik untuk memulai. Selanjutnya, gue tinggal menyingsingkan lengan baju, naikin celana karena Leuwiliang becek (:p), lalu mulai cari-vari infooo, dimana gue bisa mendapatkan ibu hamil yang sehat, yang bersedia bekerja sama dengan gue, yang berbaik hati mau mempercayakan saat-saat crusial dalam hidupnya kepada gue. Mudah-mudahan semuanya lancar dan dimudahkan. Semangat!!! :)